Monday, January 21, 2013

Makna Musibah Banjir 2013 dalam kehidupan.



Bencana banjir baru saja melanda hampir seluruh Jakarta. Banjir besar yang selalu terjadi setiap 5 tahun ini benar-benar tidak terduga waktunya dan berjalan sangat cepat hingga tidak ada persiapan untuk mengantisipasinya. Banyak rumah masyarakat yang terendam bencana ini hingga tidak dapat ditinggali lagi dan perlu mengungsi ke daerah yang aman. Banjir yang paling parah terdapat di daerah Pluit dan Teluk Gong berdasarkan desas-desus masyarakan yang saya dengar.


Bencana ini juga melanda daerah tempat tinggal saya yaitu jelambar. Bencana ini dimulai sejak tanggal 18 Januari 2013. Keadaan hujan yang begitu lebar dari jam 1 pagi hingga pagi hari hari menyebabkan ketinggian air terus menaik, dan saya kaget melihat kondisi garasi rumah saya yang sudah kemasukan air. Rencana awal yang harus pergi kerja berubah menjadi rencana untuk menyelamatkan barang yang masih tersisa di lantai bawa. Dari pukul 8 pagi hingga 10 pagi, saya mendengar berita di setiap daerah mulai dari depan Mall Citra Land, Tanjund duren, Bunderan HI, dan Pluit. Semua akses ke kantor hampir kena banjir. Hujan terus terjadi pada saat itu dan juga tepat pukul 10 pagi , listrik dipadamkan untuk mencegah terjadinya konsleting. Puji Tuhan, kita sudah prepare untuk charger dan menyiapkan air sebelum listrik mati. Kondisi di kos-an teman di daerah tanjung duren juga banjir, 

Dari Pukul 10 Pagi hingga malam, status rumah kondisi “siaga 1” yaitu kondisi dimana air sudah masuk garasi dan akan masuk ke dapur. Kami  sekeluarga memindahkan semua barang-barang yang ada di garasi dan dapur untuk antisipasi. Puji Tuhan,kami bisa mandi sore dan pagi pada hari ini.
Malam harinya, kami doa bersama sekeluarga kepada Tuhan Yesus. ketika melihat stock makanan dan kondisi Power bank(tempat charger) sudah habis, saya dan adik saya membuat planning untuk membeli sembako esok hari karena jika tidak tega jiga orang tua saya yang harus pergi. Saya tidur pukul 12.30 karena jaga malam takut air naik. Sebelum tidur, saya merenungkan bahwa “kerjasama dalam keluarga diperlukan untuk saling mendukung satu sama lain”


Hari Ke 2, Jumat, 18 Januari 2013. jam 1 sampai 4 pagi, hujan terus turun dan menaikkan volume air, sekarang air sudah masuk ke dalam dapur sehingga sudah kondisi menjadi “Awas”. Pada saat air masuk, saya masih tertidur karena kecapean menjaga malam. Jam 8 pagi saya bangun dan siap-siap untuk membawa barang-barang dibutuhkan selama membeli sembako. kondisi rumah sudah masuk air. Saya dan adik saya siap-siap untuk berjalan mengarungi banjir. Pada hari ini sinyal HP sudah tidak ada.

Dari depan rumah hingga berjalan ke borobudur, kondisi air terus naik dari yang sedengkul hingga sepinggang saya, ditambah banyak sekali warga dan orang-orang yang “Memanfaatkan” kondisi tersebut. Selama perjalanan, kami terus berdoa dan kasihan terhadap rumah-rumah yang full kena air banjir.pukul 09.30, kami tiba di Borobudur. Suasana di depan jalan Borobudur benar-benar kacau dan rawan , kami terus siaga untuk pantau apabila ada orang tidak baik selama perjalanan dari Borobudur ke jembatan 2. Kami sempat mengambil uang di BCA Jembatan 2 untuk membeli sembako. tepat pukul 10.00, kami tiba di GPdI Padamulya untuk cek poin pertama, yaitu charger alat-alat komunikasi. Saya tinggal adik saya untuk istirahat di gereja , dan saya segera membeli korek api, sayur , lilin, gas portable, telur, dan makanan ringan dipasar. Walau kondisi pasar kotor dan menjijikan karena hujan , saya terus paksa demi mendapatkan sembako. saya Tanya-tanya orang  untuk beli barang, antri yang panjang serta berdesak-desakan di pasar jembatan 2. Puji Tuhan, semua barang bisa didapatkan. Saya selesai belanja jam 12.00. Di saat kondisi seperti ini, Saya dan adik saya masih diberi kesempatan latihan musik untuk kebaktian minggu pagi. Tepat jam 12.30, kami makan siang bersama dengan keluarga gembala siding, Bapak Djemmie Pakasi dan Ibu Maggy ,serta Valensia dan tim musik saya. Pada saat makan, saya mendapatkan pelajaran “walaupun kondisi sesulit apapun,tetap tersenyum dan hadapilah”. Kami istirahat dan main “werewolf” serta “kartu cepe” sambil menunggu waktu hingga pukul 16.00 selama power bank di isi. Pukul 16.00, saya dan adik saya siap-siap pulang dan membeli 7 kue cucur untuk orang rumah. 

Selama perjalanan pulang, saya merenungkan keadaan dari pagi bahwa “ada saatnya seorang anak laki-laki menjadi pria untuk menyelematkan keluarganya walaupun hambatan sesulit apapun” .Dalam perjalan ini, kami tetap waspada dan saya mendokumentasikan kondisi Borobudur hingga depan gerbang rumah saya. 






Begitu pulang, benar-benar sebuah kemenangan besar karena saya dan adik saya dapat membawa pulang sembako untuk keluarga saya. Ada perasaan Puas terhadap diri kami, bahwa kami menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak demi keluarga. Kami segera mandi dan istirahat hingga malam tiba.  
Pada saat makan sekitar pukul 10.00, itu merupakan makan malam yang penuh keharmonisan dan rukun. Kami bisa makan bersama walau duduk dilantai dan gelap gulita, kami bisa menikmati makanan kami walaupun hanya semangkuk Indomie soto. Cuaca juga bagu karena ada bulan dan bintang. Benar-benar makan malam keluarga yang harmonis.

Hari ke-3, sabtu, 20 januari 2013. Pagi-pagi keluarga dikagetkan karena air PAM mati. Masalah baru datang karena jika tidak ada air, maka akan kesulitan. Dari pagi hinga sore, sekelurga tidak mandi dan menggunakan air sedikit mungkin. Karena kami tidak antisipasi untuk mempersiapkan air sebanyak mungkin. Pada hari ini, sinyal telepon untuk XL dan axis lumayan baik sehingga ada komunikasi keluar, berbagai kerabat dekat juga membantu dan menawarkan bantuan untuk keluarga kami dari sahabat terkasih saya-Agatha, Bpk. Trubus, Ibu Kurniati, Supervisor saya-Ko syukur, dan Sahabat saya - Suhandi.
Jam 11.00 adik saya segera keluar untuk cari depot air yang buka hingga ke daerah jembatan 5 karena sekalian ada keperluan disana dengan berjalan kaki. Sementara saya dan keluarga dirumah, terus mencari info dan mengurangi penggunaan air sedikit mungkin. Rencana awal saya yang akan les mandarin dan bertemu sahabat  terkasih  aya, saya terpaksa batalkan karena kondisi keluarga dan jalan yang tidak memungkinkan. Kemudian, Tepat pukul 16.00, Om Thomas, tetangga yang ngungsi datang untuk cek rumahnya dan membawakan 2 galon air + 5 nasi padang untuk kami makan. Kami sangat bersyukur sekali karena pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. 

Pukul 17.00, hujan besar tiba dan karena air masih belum ada, kami menampung air hujan untuk digunakan mandi, cukup mengenaskan tetapi benar-benar perjuangan demi bertahan hidup. Pertolong Tuhan tidak hanya sampai disini, Selagi saya mengumpulkan air, Bapak Djemmie, Ibu Meggy, dan Om Enchong datang membawa stok makanan seperti minyak, gula, snack dan air mineral. Kemudian adik saya juga dijemput di Borobudur yang terjebak banjir dan hujan deras membawa 3 buah air mineral. Tepat pukul 18.00, Air PAM nyala dan Puji Tuhan , kami bisa mandi dan lepas dari bau badan karena aktifitas sepanjang hari. Malam harinya, Puji Tuhan banjir mulai menyusut dan status rumah menjadi siaga 1 lagi. Pukul 22.00 keluarga sudah tidur semua, dan saya sendirian melihat bintang-bintang sambil merenungkan kejadian dan pelajaran yang saya dapat selama bencana ini. Pelajaran penting mengenai : 1. Bagaimana menjadi suami, ayah, kepala keluarga yang baik, 2. mengucap syukur dan tersenyum dalam kondisi apapun juga (I Tesalonika 5 : 18), 3. menjadi Pria dewasa dalam bertindak, serta 4. berpikir jernih walau keadaan panik sekalipun.
Pukul 00.00 saya bisa menelepon Kekasih dan sahabat terkasih saya karena saya ingin tahu kabarnya  dan mengucapkan selamat tidur. Walau hanya 5 menit, benar-benar menenangkan saya. Setelah telepon, saya melamun lihat bintang-bintang dan merasakan keindahan alam hingga pukul 1.00 malam.
Tepat hari minggu , tanggal 20 Januari 2013, kondisi jalan sudah bisa dilalui motor untuk kegereja, saya , adik saya, ibu, dan ipo saya pergi ke gereja untuk mengucap syukur atas segala apa yang terjadi selama seminggu ini.

Melalui Tulisan ini juga, saya mau mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang membantu baik langsung maupun tidak langsung serta doanya, antara lain :
  1. Daddy Jesus Christ, My Holy Father yang menolong dan menyertai keluarga saya.
  2. Gembala Sidang GPdI Padamulya, Bapak Djemmie Pakasi, Ibu Meggy, dan Valensia serta Bapak Enchong karena tumpangan selama kami mengungsi untuk charger alat-alat komunikasi ,membeli sembako di Jembatan 2,serta rela berkunjung ke rumah untuk membawa sembako walaupun kebanjiran dan kehujanan + doa.
  3. Sahabat terkasih saya, Agatha, dan keluarga: Bapak Trubus, Ibu Kurniati, dan Akong yang selalu memberikan bantuan untuk pengungsian, air bersih ,listrik, dan doa.
  4. Tetangga rumah, Om Thomas, yang memberikan bantuan dalam makanan dan minuman.
  5. Sahabat dekat saya, Suhandi. Yang menawakan bantuan untuk bela-belain jasa antar jemput charger dan sembako, cariin power bank, dan doa.
  6. Supervisor saya. Ko Syukur, yang selalu beri informasi setiap saat, tawaran untuk mengungsi dan mandi di rumah kokonya, tawaran untuk beliin sembako, dan pinjaman power banknya, serta doanya.
  7. Teman-teman lain yang mungkin lagi kena musibah juga tetapi tetap saling mendoakan.


Kiranya Tuhan Yesus  membalas dan memberkati Bapak/Ibu/Saudr/I sekalian dalam segala hal yang diperbuatnya. Amin.


No comments:

Post a Comment