Bencana banjir baru saja melanda hampir seluruh Jakarta. Banjir besar yang
selalu terjadi setiap 5 tahun ini benar-benar tidak terduga waktunya dan
berjalan sangat cepat hingga tidak ada persiapan untuk mengantisipasinya. Banyak
rumah masyarakat yang terendam bencana ini hingga tidak dapat ditinggali lagi
dan perlu mengungsi ke daerah yang aman. Banjir yang paling parah terdapat di
daerah Pluit dan Teluk Gong berdasarkan desas-desus masyarakan yang saya
dengar.
Bencana ini juga melanda daerah tempat tinggal saya yaitu jelambar. Bencana
ini dimulai sejak tanggal 18 Januari 2013. Keadaan hujan yang begitu lebar dari
jam 1 pagi hingga pagi hari hari menyebabkan ketinggian air terus menaik, dan saya
kaget melihat kondisi garasi rumah saya yang sudah kemasukan air. Rencana awal
yang harus pergi kerja berubah menjadi rencana untuk menyelamatkan barang yang
masih tersisa di lantai bawa. Dari pukul 8 pagi hingga 10 pagi, saya mendengar
berita di setiap daerah mulai dari depan Mall Citra Land, Tanjund duren,
Bunderan HI, dan Pluit. Semua akses ke kantor hampir kena banjir. Hujan terus
terjadi pada saat itu dan juga tepat pukul 10 pagi , listrik dipadamkan untuk
mencegah terjadinya konsleting. Puji Tuhan, kita sudah prepare untuk charger dan menyiapkan air sebelum listrik mati. Kondisi
di kos-an teman di daerah tanjung duren juga banjir,
Dari Pukul 10 Pagi hingga malam,
status rumah kondisi “siaga 1” yaitu kondisi dimana air sudah masuk garasi dan
akan masuk ke dapur. Kami sekeluarga
memindahkan semua barang-barang yang ada di garasi dan dapur untuk antisipasi.
Puji Tuhan,kami bisa mandi sore dan pagi pada hari ini.
Malam harinya, kami doa bersama
sekeluarga kepada Tuhan Yesus. ketika melihat stock makanan dan kondisi Power bank(tempat charger) sudah habis,
saya dan adik saya membuat planning untuk
membeli sembako esok hari karena jika tidak tega jiga orang tua saya yang harus
pergi. Saya tidur pukul 12.30 karena jaga malam takut air naik. Sebelum tidur,
saya merenungkan bahwa “kerjasama dalam
keluarga diperlukan untuk saling mendukung satu sama lain”
Hari Ke 2, Jumat, 18 Januari 2013. jam 1 sampai 4 pagi, hujan terus turun dan menaikkan volume air, sekarang air sudah masuk ke dalam dapur sehingga sudah kondisi menjadi “Awas”. Pada saat air masuk, saya masih tertidur karena kecapean menjaga malam. Jam 8 pagi saya bangun dan siap-siap untuk membawa barang-barang dibutuhkan selama membeli sembako. kondisi rumah sudah masuk air. Saya dan adik saya siap-siap untuk berjalan mengarungi banjir. Pada hari ini sinyal HP sudah tidak ada.
Dari depan rumah hingga berjalan ke borobudur,
kondisi air terus naik dari yang sedengkul hingga sepinggang saya, ditambah
banyak sekali warga dan orang-orang yang “Memanfaatkan” kondisi tersebut. Selama
perjalanan, kami terus berdoa dan kasihan terhadap rumah-rumah yang full kena
air banjir.pukul 09.30, kami tiba di Borobudur. Suasana di depan jalan Borobudur
benar-benar kacau dan rawan , kami terus siaga untuk pantau apabila ada orang
tidak baik selama perjalanan dari Borobudur ke jembatan 2. Kami sempat
mengambil uang di BCA Jembatan 2 untuk membeli sembako. tepat pukul 10.00, kami
tiba di GPdI Padamulya untuk cek poin pertama, yaitu charger alat-alat
komunikasi. Saya tinggal adik saya untuk istirahat di gereja , dan saya segera
membeli korek api, sayur , lilin, gas portable, telur, dan makanan ringan
dipasar. Walau kondisi pasar kotor dan menjijikan karena hujan , saya terus
paksa demi mendapatkan sembako. saya Tanya-tanya orang untuk beli barang, antri yang panjang serta
berdesak-desakan di pasar jembatan 2. Puji Tuhan, semua barang bisa didapatkan.
Saya selesai belanja jam 12.00. Di saat kondisi seperti ini, Saya dan adik saya
masih diberi kesempatan latihan musik untuk kebaktian minggu pagi. Tepat jam
12.30, kami makan siang bersama dengan keluarga gembala siding, Bapak Djemmie
Pakasi dan Ibu Maggy ,serta Valensia dan tim musik saya. Pada saat makan, saya
mendapatkan pelajaran “walaupun kondisi
sesulit apapun,tetap tersenyum dan hadapilah”. Kami istirahat dan main “werewolf”
serta “kartu cepe” sambil menunggu waktu hingga pukul 16.00 selama power bank
di isi. Pukul 16.00, saya dan adik saya siap-siap pulang dan membeli 7 kue cucur
untuk orang rumah.
Selama perjalanan pulang, saya merenungkan keadaan dari pagi
bahwa “ada saatnya seorang anak
laki-laki menjadi pria untuk menyelematkan keluarganya walaupun hambatan
sesulit apapun” .Dalam perjalan ini, kami tetap waspada dan saya
mendokumentasikan kondisi Borobudur hingga depan gerbang rumah saya.
Begitu pulang,
benar-benar sebuah kemenangan besar karena saya dan adik saya dapat membawa
pulang sembako untuk keluarga saya. Ada perasaan Puas terhadap diri kami, bahwa
kami menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak demi keluarga. Kami segera
mandi dan istirahat hingga malam tiba.
Pada saat makan sekitar pukul 10.00,
itu merupakan makan malam yang penuh keharmonisan dan rukun. Kami bisa makan
bersama walau duduk dilantai dan gelap gulita, kami bisa menikmati makanan kami
walaupun hanya semangkuk Indomie soto. Cuaca juga bagu karena ada bulan dan
bintang. Benar-benar makan malam keluarga yang harmonis.
Hari ke-3, sabtu, 20 januari 2013. Pagi-pagi
keluarga dikagetkan karena air PAM mati. Masalah baru datang karena jika tidak
ada air, maka akan kesulitan. Dari pagi hinga sore, sekelurga tidak mandi dan
menggunakan air sedikit mungkin. Karena kami tidak antisipasi untuk
mempersiapkan air sebanyak mungkin. Pada hari ini, sinyal telepon untuk XL dan
axis lumayan baik sehingga ada komunikasi keluar, berbagai kerabat dekat juga
membantu dan menawarkan bantuan untuk keluarga kami dari sahabat terkasih saya-Agatha, Bpk. Trubus, Ibu Kurniati,
Supervisor saya-Ko syukur, dan Sahabat saya - Suhandi.
Jam 11.00 adik saya segera keluar
untuk cari depot air yang buka hingga ke daerah jembatan 5 karena sekalian ada
keperluan disana dengan berjalan kaki. Sementara saya dan keluarga dirumah,
terus mencari info dan mengurangi penggunaan air sedikit mungkin. Rencana awal saya
yang akan les mandarin dan bertemu sahabat terkasih aya, saya terpaksa batalkan karena
kondisi keluarga dan jalan yang tidak memungkinkan. Kemudian, Tepat pukul
16.00, Om Thomas,
tetangga yang ngungsi datang untuk cek rumahnya dan membawakan 2 galon air + 5 nasi
padang untuk kami makan. Kami sangat bersyukur sekali karena pertolongan Tuhan
tidak pernah terlambat.
Pukul 17.00, hujan besar tiba dan karena air masih
belum ada, kami menampung air hujan untuk digunakan mandi, cukup mengenaskan tetapi
benar-benar perjuangan demi bertahan hidup. Pertolong Tuhan tidak hanya sampai
disini, Selagi saya mengumpulkan air, Bapak Djemmie, Ibu Meggy, dan Om Enchong datang
membawa stok makanan seperti minyak, gula, snack dan air mineral. Kemudian adik
saya juga dijemput di Borobudur yang terjebak banjir dan hujan deras membawa 3
buah air mineral. Tepat pukul 18.00, Air PAM nyala dan Puji Tuhan , kami bisa
mandi dan lepas dari bau badan karena aktifitas sepanjang hari. Malam harinya, Puji
Tuhan banjir mulai menyusut dan status rumah menjadi siaga 1 lagi. Pukul 22.00
keluarga sudah tidur semua, dan saya sendirian melihat bintang-bintang sambil
merenungkan kejadian dan pelajaran yang saya dapat selama bencana ini.
Pelajaran penting mengenai : 1. Bagaimana
menjadi suami, ayah, kepala keluarga yang baik, 2. mengucap syukur dan tersenyum
dalam kondisi apapun juga (I Tesalonika 5 : 18), 3. menjadi Pria dewasa dalam
bertindak, serta 4. berpikir jernih walau keadaan panik sekalipun.
Pukul 00.00 saya bisa menelepon Kekasih dan sahabat terkasih saya karena saya ingin tahu kabarnya dan mengucapkan selamat tidur. Walau hanya
5 menit, benar-benar menenangkan saya. Setelah telepon, saya melamun lihat
bintang-bintang dan merasakan keindahan alam hingga pukul 1.00 malam.
Tepat hari minggu , tanggal 20
Januari 2013, kondisi jalan sudah bisa dilalui motor untuk kegereja, saya ,
adik saya, ibu, dan ipo saya pergi ke gereja untuk mengucap syukur atas segala
apa yang terjadi selama seminggu ini.
Melalui Tulisan ini juga, saya mau
mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang membantu baik langsung
maupun tidak langsung serta doanya, antara lain :
- Daddy Jesus Christ, My Holy Father yang menolong dan menyertai keluarga saya.
- Gembala Sidang GPdI Padamulya, Bapak Djemmie Pakasi, Ibu Meggy, dan Valensia serta Bapak Enchong karena tumpangan selama kami mengungsi untuk charger alat-alat komunikasi ,membeli sembako di Jembatan 2,serta rela berkunjung ke rumah untuk membawa sembako walaupun kebanjiran dan kehujanan + doa.
- Sahabat terkasih saya, Agatha, dan keluarga: Bapak Trubus, Ibu Kurniati, dan Akong yang selalu memberikan bantuan untuk pengungsian, air bersih ,listrik, dan doa.
- Tetangga rumah, Om Thomas, yang memberikan bantuan dalam makanan dan minuman.
- Sahabat dekat saya, Suhandi. Yang menawakan bantuan untuk bela-belain jasa antar jemput charger dan sembako, cariin power bank, dan doa.
- Supervisor saya. Ko Syukur, yang selalu beri informasi setiap saat, tawaran untuk mengungsi dan mandi di rumah kokonya, tawaran untuk beliin sembako, dan pinjaman power banknya, serta doanya.
- Teman-teman lain yang mungkin lagi kena musibah juga tetapi tetap saling mendoakan.
Kiranya Tuhan Yesus membalas dan memberkati Bapak/Ibu/Saudr/I sekalian
dalam segala hal yang diperbuatnya. Amin.










No comments:
Post a Comment